Dinamika Buruh Gendong Wanita Lansia di Pasar Beringharjo
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Permasalahan Penelitian
Pasar Beringharjo memiliki nilai historis dan filosofis dengan Kraton Yogyakarta karena telah melewati tiga fase, yakni masa kerajaan, penjajahan, dan kemerdekaan. Pembangunan Pasar Beringharjo merupakan salah satu bagian dari rancang bangun pola tata kota Kesultanan Yogyakarta yang disebut Catur Tunggal. Pola tata kota ini mencakup empat hal yakni keratin sebagai pusat pemerintahan, alun-alun sebagai ruang publik, masjid sebagaitempat ibadah, dan pasar sebagai pusat transaksi ekonomi (Sukendro,2009:108).
Pasar Beringharjo merupakan pasar yang terletak di kawasan wisata oleh-oleh malioboro. yang disana dapat ditemui berbagai macam pedagang, mulai dari makanan sampai pakaian. ada sisi lain yang terkadang tidak kita perhatikan bahwa di dalam sana ada orang-orang yang masih menawarkan jasa menggendong belanjaan. buruh gendong adalah sebutan untuk orang yang pekerjaannya menggendong/membawakan belanjaan. pengertian dari Buruh itu sendiri adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah. jadi buruh gendong akan mendapat upah setelah dia membawakan barang belanjaan seseorang.
wanita buruh gendong di Beringharjo terbilang cukup banyak, mulai dari anak muda sampai yang sudah usia senja. yang menarik disini adalah buruh gendong yang usianya sudah lansia atau sudah dipanggil mbah-mbah. usianya bisa lebih dari 60 tahun.
B. Tujuan Penelitian
- Memenuhi Tugas mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif.
- Mengetahui apa itu profesi buruh gendong.
- Mengetahui faktor apa saja yang berperan dalam pemilihan profesi buruh gendong.
- Memahami lebih dalam tentang pekerjaan sebagai buruh gendong di pasar Beringharjo.
C. Manfaat Penelitian
- Menambah pengetahuan dan pemahaman lebih dalam bagi peneliti tentang pekerjaan yang menawarkan jasa.
- Menambah pemahaman filosofis terkait buruh gendong.
- Medapatkan nilai-nilai kehidupan dari pekerjaan seorang wanita buruh gendong.
- Mengembangkan keahlian wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti kepada subyek (buruh gendong) dan pelanggannya.
BAB II PERSPEKTIF TEORITIS DAN KAJIAN PUSTAKA
- Kajian Teori
Pengertian tentang buruh gendong:
Ada perbedaan istilah tentang buruh gendong, karena buruh gendong tidak sama dengan buruh-buruh yang lain, seperti : buruh bangunan, buruh pabrik ataupun buruh tani. Meskipun pekerjaannya hampir sama yaitu memberikan pelayanan jasa untuk mengangkut atau menggendongkan barang untuk orang lain, namun sebutan untuk lakilaki berbeda dengan perempuan. Bagi laki-laki biasa disebut dengan kuli, sedangkan bagi perempuan dikenal dengan sebutan buruh gendong. Buruh gendong dilihat secara harfiah adalah profesi gendong-menggendong barang yang dilakukan oleh seorang perempuan. Dengan kata lain buruh gendong adalah sebutan untuk seorang perempuan yang menyandang selendang jarit lurik (kain yang bermotif lurik) dan ada pula yang menenteng srumbung di punggungnya. Tetapi ada pula yang cuma sekedar menggunakan jarit lurik saja untuk menggendong barang yang besar. Srumbung dipakai untuk membawa barang yang relatif kecil-kecil tetapi banyak (Nur Haryanto, 1998).
B. Pertanyaan Penelitian
- Central question
- Mengapa subjek memutuskan untuk tetap bekerja sebagai buruh gendong di usia yang sudah senja?
- Issue sub question
- Bagaimana cara subjek dalam menawarkan jasa membawakan barang belanjaan pelanggan?
- Bagaimana hubungan subjek dengan keluarga?
- Faktor apa saja yang berperan dalam pemilihan profesi buruh gendong?
- Topical question
- Apa alasan utama subjek memilih profesi buruh gendong?
BAB III METODE PENELITIAN
- Pendekatan
Kami menggunakan pendekatan fenomenologi karena kami ingin memperoleh data secara lebih mendalam. Selain itu kami ingin mengungkapkan makna dibalik pemilihan profesi buruh gendong di usia yang sudah senja.
B. Batasan Istilah
- Pasar Beringharjo merupakan pasar yang terletak dikawasan malioboro sebagai tempat transaksi ekonomi (perdagangan).
- Buruh Gendong wanita merupakan pekerjaan yang dilakukan dengan menawarkan jasa untuk menggendong atau membawakan barang belanjaan untuk kemudian mendapat upah.
- Usia senja merupakan usia dimana seseorang sudah memasuki rentang usia 60 tahun ke atas.
D. Deskripsi Setting Penelitian
Wilayah/tempat pengambilan sampel kami berada di pasar beringharjo PB1 lantai II Blok IV.
Kami melakukan dua kali pengambilan data. Observasi pendahuluan kami lakukan pada hari kamis, 26 mei 2016 pukul 11:30 sampai 12:00 WIB. Pengambilan data ke dua pada hari jum’at, 27 mei 2016 pukul 08:20 sampai 10:24 WIB.
Hasil Wawancara
Subjek penelitian kami adalah seorang nenek berusia 85 tahun. Beliau bernama Mbah Harjo Lasinah. Beliau adalah salah satu penyedia jasa buruh gendong di pasar Beringharjo, Yogyakarta. Beliau berasal dari daerah Sentolo, Kulon Progo, Yogyakarta. Dari hasil wawancara, diketahui bahwa Mbah Harjo memiliki 5 orang anak, 15 orang cucu dan 5 orang cicit. Beberapa dari anak Mbah Harjo sudah memiliki rumah sendiri dan ada pula yang merantau ke Jakarta, sehingga beliau hanya tinggal bertiga dengan anaknya. Mbah Harjo berangkat dari rumah sekitar pukul 04.00 WIB bersama dengan penyedia jasa buruh gendong lainnya menggunakan mobil. Mbah Harjo biasanya tiba di pasar sekitar pukul 06.00 WIB dan langsung memulai pekerjaannya. Beliau mengatakan bahwa tidak ada pembagian wilayah dalam bekerja, sehingga para penyedia jasa buruh gendong bebas berkeliling untuk menemukan pelanggan, kecuali di pasar sayur yang didominasi oleh kaum laki- laki karena barang bawaannya yang cukup berat. Mbah Harjo juga mengatakan bahwa disini juga tidak ada pendataan dari keamanan pasar sehingga siapapun bisa menjadi penyedia jasa buruh gendong tanpa harus membuat laporan. Para penyedia jasa buruh gendong disini juga tidak pernah ada yang berebut wilayah maupun pelanggan. Mbah Harjo mengatakan bahwa tidak ada jam kerja secara pasti. Beliau bekerja dari pagi sampai kira- kira sudah tidak ada pembeli lagi. Mbah Harjo tidak pernah memasang tarif untuk jasa gendongnya. Beliau hanya menerima dengan ikhlas berapapun yang diberikan pelanggannya. Namun kadang- kadang selain uang, beliau juga memperoleh pakaian, mukenah, dll dari pelanggannya. Dalam sehari beliau bisa mendapatkan penghasilan kira- kira Rp. 100.000 lebih dan paling sedikit Mbah Harjo mempeoleh Rp. 50.000 kadang kurang dari itu. Beliau tidak pernah mempermasalahkan berapapun penghasilan yang Mbah Harjo peroleh, karena beliau melakukan pekerjaan ini hanya sekedar untuk mencari hiburan agar bisa bertemu dengan teman- temannya. Ketika ditanya mengpa masih bekerja ternyata Mbah Harjo mengatakn bahwa beliau merasa bosan, kesepian dan takut mengalami pikun apabila berada di rumah terus. Selain menjadi penyedia jasa buruh gendong, Mbah Harjo juga menjadi buruh di sawah milik orang lain.
Berikut ini kami sajikan hasil observasi dan wawancara kami :
Hasil wawancara pengguna jasa buruh gendong
Pengguna jasa buruh gendong pertama bernama Ibu Endah yang berasal dari Kalimantan. Alasan Ibu Endah masih menggunakan jasa buruh gendong karena awalnya ia merasa kasihan melihat penyedia jasa buruh gendong yang sudah berusia lanjut. Ibu Endah mengatakan bahwa sebenarnya ia terpaksa menggunakan jasa Mbah Harjo karena mungkin memang Mbah Harjo mencari makan dengan cara menawarkan bantuan untuk membawakan barang belanjaan para pengunjung pasar, sehingga ia merasa kasihan melihatnya.
Pengguna jasa buruh gendong kedua bernama Monica. Ia berasal dari Jakarta dan sedang berlibur bersama dengan ibu mertuanya. Kalau menurut saya, keberadaan penyedia jasa buruh gendong ini sangat bagus disamping bisa membantu membawakan barang beanjaan, sepertinya juga merupakan suatu tradisi disini, kata Monica. Ia juga menuturkan bahwa kalau ada yang menawarkan jasa gendong sebaiknya kita manfaatkan saja selain untuk membantu perekonomian penyedia jasa juga sekaligus bisa melestarikan tradisi disini. Menurutnya di Jakarta tidak ada buruh gendong seperti yang ada di pasar Beringharjo ini. Para penyedia jasa buruh gendong di pasar ini mau menunggu dan mengikuti kemanapun pembeli itu berbelanja, lain halnya yang ada di Jakarta mereka tidak mau menunggu dan mengikuti pembeli itu berkeliling. Selain itu pada umumnya penyedia jasa gendong di Jakarta didominasi oleh kaum pria saja. Monica masih mau menggunakan jasa buruh gendong Mbah Harjo karena ia merasa iba dan sangat salut dengan semangat perjuangan seorang nenek untuk mengumpulkan uang. Padahal kalau di Jakarta banyak orang seusia Mbah Harjo memilih menjadi pengemis daripada bekerja. Hal lain yang sangat membuat Monica salut dengan semangat Mbah Harjo adalah ketika ia dan ibu mertuannya sedang makan di sekitaran pasar, ia mendapatkan orang yang jauh lebih muda dari Mbah Harjo meminta- minta uang kepadanya. Sedangkan Mbah Harjo dengan usia 85 tahun masih semangat bekerja keras dari pada meminta- minta.
Hasil Observasi
08.20-08.55
|
Subjek berada di lantai dua sedang berdiri melihat kanan-kiri (observer dating lalu bersalaman) subjek dan observer duduk-duduk sambil menunggu pengguna jasa. Subjek berjalan menuju pedagang makanan ringan menghampiri dua ibu-ibu, membungkus barang belanjaan, menggendong membawa barang belanjaan kedepan pasar lalu menaikkan barang belanjaan ke becak. Subjek kembali naik tangga ke lantai dua, duduk, dan diwawancarai (beberapa kali melihat interviewer namun pandangan subjek terkadang teralihkan oleh beberapa orang-orang yang lewat)
|
08.55-08.58
|
Subjek berjalan menuju arah pedagang makanan ringan menawarkan jasa “bu, kula betakne” kepada setiap pembeli namun diabaikan. Subjek berjalan menuju blok barat berjalan menuju setiap tengkulak, bertanya, menawarkan jasa, beberapa kali ditolak oleh pengunjung pasar.
|
08.58-09.03
|
Berdiri didekat tangga sambil menawarkan jasa ketika ada pengunjung pasar yang disampingnya namun ditolak
|
09.03-09.14
|
subjek berjalan turun tangga menawarkan jasa ke pengunjung pasar yang berada ditengkulak pakaian. Subjek di tolak lagi 3x.
|
09.14-09.22
|
Menawarkan jasa, menunggu pengunjung pasar yang sedang berbelanja
|
09.22-10.24
|
Subyek menunggu dengan sabar yang sedang berbelanja cukup banyak.
Subyek tampak kelelahan dan sempat duduk di kursi sebentar.
Subyek tersenyum kepada kami ketika kami melewati jalan di dekatnya.
Subyek tampak ramah dan turut berbaur dalam percakapan penjual dan pembeli.
|
E. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Kami mewawancarai 1 orang subyek (buruh gendong), 2 pelanggan dan 1 orang yang cukup kenal dengan subyek.
Daftar Pustaka
LAMPIRAN :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar